7 Level Fotografer


Level 7 : Artist/Seniman

Tingkat ini merupakan tingkat tertinggi.

Seorang fotografer seniman akan menangkap apa yg di imajinasikan dalam bentuk nyata yaitu sebuah foto. Dia dapat menangkap jiwa seseorang atau dari suatu tempat dan yang melihatnya akan memberikan reaksi atas hasil fotonya.

Seorang seniman sangat menguasai alat yg digunakan. Dalam menciptakan karyanya dia sama sekali tidak memikirkan soal2 teknis. Dalam berkarya kamera hanya merupakan perpanjangan dari daya imajinasinya.

Sebagai seniman mungkin saja dia memiliki berbagai alat untuk digunakan menciptakan karya yg berbeda. Tapi mungkin juga dia hanya punya satu kamera untuk menciptakan semua karya seninya.

Biasanya seniman fotografer akan berpakaian unik dan bertingkah agak berbeda dan sering tidur sangat malam.

Karya2 fotografer seniman jarang dilihat oleh umum karena agak sulit dalam bergaul dan mempromosikan karya2nya dan bahkan kadang tidak mengapresiasi karyanya sendiri. Fotografer yang hanya mengapresiasi fotonya sendiri turun derajat menjadi Fotografer Pedagang (Tingkat 6). Akibatnya anda akan jarang melihat karya2nya kecuali anda kenal dekat dengannya. Fotografer Seniman agak sungkan memperlihat karya2mya karena karyanya merupakan jendela ke dalam jiwa seniman tsb.

Fotografer seniman akan menggunakan segala macam alat fotografi untuk mencipatkan karyanya termasuk kamera lubang jarum, format 8” x 10”, polaroid, dll.

 

Level 6 : Pedagang/Whore

Seorang Pedagang adalah fotografer seniman yang telah menjual jiwanya untuk mendapatkan uang.

Dengan menurunkan derajat kehormatannya maka karya2nya mengalami kompromi dengan dunia komersial.

Kenapa? Karena apabila seorang fotografer sangat tergantung pada penjualan karyanya untuk membayar semua kenikmatan dunia maka dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan pendapatannya tsb. Ini berarti dia tidak akan mengubah gaya fotografinya. Dan ini berarti foto yang dijualnya jarang berubah atau tambah baik.

Gaya fotografinya yang laku terjual adalah apa yang diinginkan oleh pembelinya. Sehingga sangat sulit baginya untuk mengubah gaya fotografinya dimana dia sudah terkenal dengan gayanya tsb.

 

Level 5 : Amatir

Seorang yang mendapatkan kurang dari setengah dari total penghasilan bulanannya disebut Amatir. Hal ini tidak ada hubungannya dengan kualitas fotografinya.

Orang ini sangat senang untuk mengambil foto. Amatir yang menghasilkan karya2 yang bagus dan dengan jiwa yang murni bisa langsung naik tingkat ke Tingkat 7 – Seniman.

Amatir yang menganggap bahwa kamera yang lebih bagus (dan lebih mahal) akan meningkatkan kualitas fotonya beresiko menurunkan derajatnya menjadi Tingkat 1 – Penggila Alat (Measurbator /tingkat terendah). Banyak Amatir tergiur oleh iklan para produsen kamera bahwa mereka perlu kamera yang lebih bagus untuk menghasilkan foto yang bagus. Hal ini merupakan racun dalam menciptapkan seni.

Para Amatir yang dapat menciptakan foto dengan jiwa yang kreatifnya yang murni akan menuju ke arah pencerahan jiwa. Menjadi seorang Amatir adalah sesuatu yang baik dan dapat meningkatkan derajat ke Tingat Seniman dengan mudah.

 

Level 4 : Snapshooter

Ini merupakan jumlah terbanyak. Yang mereka inginkan adalah kenangan bukan foto atau alat kamera.

Si Tukang Foto yang juga merupakan pekerja grafis atau yang memiliki kemampuan visual dapat menghasilkan foto yang sangat baik serta dikagumi banyak orang. Si Tukang Foto ini adalah seniman tanpa disadarinya. Mereka biasanya berpenampilan lebih rapih dari pada mereka yang mengaku sebagai seniman.

Percalayah: foto yang bagus bukan tergantung pada kamera tetapi pada fotografernya.

Tukang Foto biasanya menggunakan kamera kompak yang menghasilkan foto seindah foto yang dihasilkan oleh kamera Nikon, Canon, Leica dsb.

 

Level 3 : Profesional

Seorang profesional adalah seseorang yang 100% bergantung hidupnya dari penjualan fotografi.

Seorang profesional tidak menciptakan seni dalam kehidupannya; mereka menciptakan karya visual untuk tujuan komersial. Mereka biasanya memiliki kemampuan menggunakan alat2 fotografi dan menghasilkan karya yang cukup bagus tetapi belum tentu dapat mengembangkan daya imaginasi.

Seorang profesional tidak banyak menghabiskan waktu memikirkan alat kamera kecuali apabila perlu dibetulkan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari order dan memaki para fotografer lainnya karena menurunkan harga jual.

Dalam dunia fotografi alam tidak ada yang profesional. Semua memiliki pekerjaan tetap atau didukung oleh keluarganya.

Seorang professional biasanya menggunakan alat2 foto seperti DSLR, Mamiya medium format, dsb. Mereka tidak sanggup untuk membeli kamera yang lebih baik dibanding para amatir yang serius.

Apabila anda tidak pernah membeli dan menggunakan karya fotografi komersial maka anda tidak akan pernah mendengar nama si Profesional ini. Mereka2 yang anda lihat dalam iklan kamera hanyalah disponsori oleh perusahaan kamera.

Profesional biasanya tidak memiliki website dan jarang menghasilkan tulisan mengenai teknis fotografi. Biasanya hal ini dilakukan oleh si Amatir.

 

Level 2 : Amateur tapi kaya

Mereka adalah para amatir yang karena memiliki terlalu banyak uang membeli banyak alat fotografi yang dapat mendukung keinginan atas kebebasan.

Si Amatir Kaya ini memiliki kamera Leica, Contax atau Hasselblad. Ini adalah kamera yang hebat semuanya tetapi hasilnya akan sama dengan menggunakan Fuji, Pentax, Minolta. Sekarang mereka menggunakan Canon 1Ds, 5Ds atau Nikon D3s, dan sejenisnya.

Mereka2 inilah idiot yang di awal tahun 2000an membeli kamera DSLR Nikon D1 dengan 2.7 mega pixel yang berharga lebih dari USD6,000 dan diciptakan untuk para jurnalis foto hanya karena mahal. Hasil foto kamera ini lebih buruk dari pada menggunakan film. Kamera mahal bukan berarti bagus.

Amatir Kaya yang buruk berpikir bahwa foto hitam-putih yang tidak jelas dengan obyek orang miskin adalah seni.

Beberapa Amatir Kaya masuk kategori yang sangat rendah karena mereka terlalu memikirkan alat fotografi. Dilain pihak ada beberapa Amatir Kaya yang menghasilkan karya yang mengagumkan karena mereka terbebas dari kekhawatiran atas alat yang mereka gunakan karena mereka berpikir bahwa mereka memang sudah memiliki alat yang terbaik. Anehnya Amatir Kaya jarang menghasilkan foto yang biasa2 saja. Mereka akan menghasilkan karya yang cemerlang atau sangat buruk.

 

Level 1 : Measurbator

Orang-orang ini kurang bisa mengekspresikan imajinasi atau perasaan, rang-orang ini memiliki kemampuan analisis foto tapi tidak pernah mencapai apa-apa.

Apakah menganalisis gambar dengan mikroskop ada hubungannya dengan memotret sebuah pohon saat sunset? Tentu saja tidak. Lebih buruk lagi, waktu hanya terbuang untuk berkonsentrasi pada analisis ini dan tidak menghabiskan waktu mempelajari aspek berguna fotografi dan tentu saja waktu dihabiskan lebih berguna jika untuk memotret. Analisis cukup untuk tahu apa gear Anda dapat melakukannya, dan kemudian melanjutkan fotografi nyata.

Mereka tertarik hanya pada peralatan itu sendiri. Mereka akan berbicara selama berjam-jam sampai telinga anda panas jika anda membiarkan mereka, tetapi segera setelah Anda meminta untuk melihat portofolio/hasil karya mereka, tanpa ada keberanian mereka pergi, kecuali anda ingin melihat peralatan serta gear mereka.

Kebanyakan mengerti dan fasih mengenai teknis fotografi serta ilmu pengetahuan yg terkandung di dalamnya . Orang-orang ini terlalu khawatir untuk mencoba, terlalu terbelenggu dengan grafik, histogram, numerik, analisis dan lain lain . Dan mereka tidak menyadari fakta bahwa kamera atau grafik pengujian tidak ada hubungannya dengan semangat dari suatu gambar. Karena mereka memiliki kekhawatiran tentang kinerja kamera serta peralatannya dan kita telah menjuluki mereka “Measurbators.”

Orang-orang ini tidak pernah menciptakan sesuatu yang hebat dengan semua perlengkapan yang dimilikinya, tetapi mereka akan gembira dengan hanya memiliki, mendapatkan atau berbicara dengan Anda tentang hal itu.

sebaiknya dalam keadaan apa pun Jangan berurusan dengan orang-orang ini, bicara dengan mereka, membaca situs Web mereka atau terutama meminta mereka untuk fotografi nasihat. Orang orang ini terlalu khawatir dengan perlengkapan, kamera serta ketajaman lensa. Jika Anda mulai mengkhawatirkan tentang hal ini dan Anda tidak akan pernah foto apa-apa lagi kecuali dinding bata dan menguji grafik.

Orang-orang ini mudah diidentifikasi. Mereka selalu punya banyak info tentang peralatan, tapi sangat sedikit foto nyata.

So….. Buat kamu yang suka foto, di level berapakah kamu ???

Hemm kalo aku sih masih belum masuk level ini nih  ^^

sumber: anonim


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s